Sukoharjo, 23 Februari 2026 — Bertempat di SmartClass lantai 2 gedung kampus STMIK AMIKOM Surakarta yang beralamat di Jl. Veteran Notosuman, Singopuran, Kartasura, Sukoharjo, telah dilaksanakan kegiatan Pelepasan Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) bagi mahasiswa Program Studi S1 Informatika semester 7.

Acara yang berlangsung kurang lebih 30 menit tersebut berjalan secara khidmat, tertib, dan penuh makna. Walaupun singkat dari sisi durasi, kegiatan ini sesungguhnya menjadi penanda dimulainya fase penting dalam perjalanan akademik mahasiswa—fase di mana pengetahuan tidak lagi berhenti pada ruang kelas, melainkan diuji dalam realitas sosial masyarakat.

Sebanyak 26 kelompok KKN resmi dilepas pada kesempatan tersebut. Masing-masing kelompok terdiri atas 4 hingga 5 mahasiswa/i yang telah memiliki rancangan program kerja. Dari keseluruhan kelompok, 2 kelompok akan melaksanakan pengabdian di Desa Janti, sementara 24 kelompok lainnya akan tersebar di 18 desa di wilayah Teras. Desa-desa tersebut menjadi desa binaan, sekaligus ruang kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam membangun solusi berbasis teknologi.

KKN merupakan wujud konkret pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa tidak hanya dituntut mampu memahami teori dan konsep informatika, tetapi juga mengimplementasikannya dalam bentuk solusi digital yang kontekstual, adaptif, dan memberi manfaat nyata.

Rangkaian acara dimulai dengan doa bersama sebagai ungkapan syukur dan harapan akan kelancaran kegiatan. Suasana semakin khidmat saat seluruh hadirin menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan dengan Mars Amikom yang meneguhkan identitas dan kebanggaan terhadap almamater. Kegiatan dipandu dengan tertib oleh Bapak Riyan Abdul Aziz, M.Kom. selaku pembawa acara.

Dalam sambutannya, Bapak Mochammad Hari Purwidiantoro, S.T., M.M., M.Kom., selaku Ketua STMIK AMIKOM Surakarta menyampaikan tiga pesan utama yang menjadi fondasi moral sekaligus profesional selama pelaksanaan KKN. Pertama, mahasiswa harus mampu menjadi solusi, bukan beban—khususnya dengan menghadirkan inovasi dan pendampingan digital yang membantu perangkat serta masyarakat desa. Kedua, menjaga nama baik almamater melalui etika, sopan santun, serta kemampuan beradaptasi dengan budaya dan kearifan lokal setempat. Ketiga, pentingnya membangun komunikasi dan kolaborasi yang harmonis dengan masyarakat, karena keberhasilan program tidak semata ditentukan oleh kecanggihan teknologi, melainkan oleh kepercayaan dan sinergi sosial.

Selanjutnya, Bapak Muhammad Setiyawan, M.Kom. selaku Kaprodi S1 Informatika menegaskan beberapa hal teknis dan strategis. Proposal dan program kerja yang telah dirancang harus mulai diimplementasikan sejak hari pertama penugasan. Surat Tugas yang diterima pada hari pelepasan wajib segera diserahkan kepada Kepala Desa masing-masing sebagai bentuk legitimasi administratif dan etika kelembagaan. Beliau juga menekankan pentingnya fleksibilitas dalam pelaksanaan program selama 30 hari ke depan, dengan tetap menyesuaikan kondisi riil di lapangan. Disampaikan pula adanya jeda sekitar dua minggu untuk libur Idul Fitri. Setiap kegiatan yang telah dilaksanakan dianjurkan untuk dibuat laporannya pada malam harinya sebagai bentuk tanggung jawab akademik dan dokumentasi profesional. Pesan penutup beliau menggarisbawahi tiga hal mendasar: menjaga kesehatan, menjaga nama baik pribadi, dan menjaga nama baik almamater.

Prosesi pelepasan secara simbolis menjadi puncak acara. Perwakilan mahasiswa maju untuk mengenakan cocard sebagai tanda resmi dimulainya tugas pengabdian. Simbol tersebut merepresentasikan amanah, tanggung jawab, serta komitmen moral sebagai duta institusi di tengah masyarakat.

Kegiatan diakhiri dengan sesi foto bersama seluruh peserta KKN dan para dosen S1 Informatika, dilanjutkan dengan dokumentasi masing-masing kelompok bersama Dosen Pembimbing. Di balik setiap senyum yang terabadikan, tersimpan harapan agar perjalanan pengabdian ini menjadi pengalaman transformatif—tidak hanya bagi masyarakat desa binaan, tetapi juga bagi mahasiswa itu sendiri.

Pada akhirnya, KKN bukan sekadar agenda akademik tahunan. Ia adalah ruang pembelajaran yang paling autentik—tempat mahasiswa belajar tentang realitas, empati, tanggung jawab, dan kepemimpinan. Dari ruang SmartClass itu, langkah pengabdian dimulai. Semoga ilmu yang dibawa tidak hanya menjadi kebanggaan institusi, tetapi juga menjadi cahaya kecil yang menerangi dan memberdayakan masyarakat.